Hotel Dibya Puri yang berdiri di kawasan alun alun tempo dulu menyimpan kisah panjang. Ia menjadi salah satu saksi bisu sejarah perkembangan Kota Semarang. Sebuah cukilan sejarah tentang hotel tersebut kini masih terpasang di dinding Hotel Dibya Puri. Pada cukilan sejarah itu tertulis, hotel Du Pavillon dibangun tahun 1847. Hotel itu semula terdiri atas sekelompok bangunan yang saling berhubungan. Hotel Dibya Puri awalnya merupakan sebuah vila berlantai dua, yang kemudian disewakan sebagai losmen.
Menyambut perhelatan akbar Koloniale Tentoonsteling di Semarang tahun 1914, Du Pavillon dirombak total. Bangunan sayapnya direnovasi dan ditambahi menara beratap piramida di kedua sisi. Demikian pula bangunan induk, diubah dari semula berlanggam Eropa menjadi Indis. Bagian serambi dilebarkan, jendelanya dilengkapi panel kaca atau krepyak. Pilar-pilar besar dari batu bata diganti kolom langsing berbahan besi. Renovasi membuat ruangan relatif lebih sejuk, dan beroleh pencahayaan cukup.
Pada masa itu, Du Pavillon memang merupakan penginapan terbaik di Semarang. Ini penginapan Eropa kedua yang dibangun di Ibu Kota Midden Java, setelah Hotel Jansen di Heerenstraat (sekarang Jl Letjen Soeprapto). Nama Du Pavillon yang kebarat-baratan diganti dengan Dibya Puri. Nama itu dipilih, selain tak merubah inisial “DP”, punya makna yang bagus, yakni bangunan yang kokoh
Kini Nasib tragis menimpa Hotel Dibya Puri di Jalan Pemuda yang sudah sekitar satu bulan tutup. Hotel yang berada di bawah pengelolaan BUMN PT Hotel Indonesia Natour (HIN) itu mulai tidak menghasilkan keuntungan. Dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan, Dibya Puri kalah bersaing dengan hotel-hotel yang menjamur di Semarang. Selama ini PT HIN mencoba bertahan dengan melakukan sejumlah pembenahan. Namun lantaran tak kunjung berhasil, opsi penutupan akhirnya diambil. Saat ini mereka tengah mencari kemungkinan pemanfaatan tanah dan bangunan bekas hotel.
Cara paling tepat untuk menyelamatkan Dibya Puri adalah dengan melakukan revitalisasi dan restorasi. Dalam hal ini terdapat beberapa alternatif, yaitu tetap sebagai hotel atau berubah menjadi gedung perkantoran atau lainnya. Namun yang pasti perlu ada rambu-rambu khusus yang harus dipatuhi agar tidak kontraproduktif terhadap salah satu bangunan bersejarah di Semarang tersebut.
Ada tiga hal yang mendasari perlunya melakukan konservasi Dibya Puri Pertama, nilai historisnya tinggi sebagai monumen yang menandai awal perkembangan perhotelan di Semarang. Kedua, nilai arsitektur yang khas sebagai bentuk adaptasi arsitektur Eropa terhadap iklim tropis yang lebih dikenal dengan arsitektur Indis. Ketiga, nilai estetika dari arsitektur bangunan yang tinggi. Konservasi bukan membiarkan bangunan kuno apa adanya. Konservasi harus juga mempertimbangkan kebutuhan dan tantangan-tantangan kini serta masa depan. Restorasi Hotel Dibya Puri, merupakan upaya menjaga keberlangsungan bangunan tersebut. Bangunan utama hotel yang merupakan cagar budaya mungkin tetap dipertahankan. Hal ini disebabkan Dibya Puri tercantum dalam 101 bangunan bersejarah di Kota Semarang, yang ditetapkan dalam SK Wali Kota tahun 1992.
Proses penyelamatan ini memang membutuhkan renovasi. Di sinilah diperlukan kehati-hatian agar nilai keunggulan Dibya Puri tidak terdistorsi. Untuk itu perlu melibatkan pakar konservasi bangunan lama. Sehingga perlu penyusunan panduan teknis penggunaan Bangunan Kuno seperti Dibya Puri oleh semua stakeholder sebagai rambu-rambu bagi pihak yang kelak menggunakannya. Pada prinsipnya, bangunan bersejarah idealnya harus difungsikan. Namun secara teknis, alih fungsi dapat dilakukan dengan tanpa mengubah struktur bangunan serta memperhatikan atauran yang berlaku. Alih fungsi bangunan bersejarah yang difungsikan sebagai hotel, sudah banyak dilakukan. Misalnya, Raffles Hotel Singapura, kemudian Kompleks PHI (wisma Haji) yang juga berubah menjadi hotel.
Bangunan konservasi seperti ini memiliki peminat tersendiri. Mereka menyukai suasana klasiknya untuk bernostalgia. Memang perlu usaha yang keras, bagaimana memunculkan kembali brand image Dibya Puri sebagai bagian dari historical tourism. Kita bisa membidik wisatawan asing yang memiliki kedekatan hubungan sejarah dengan Indonesia sebagai bekas daerah jajahan, seperti Belanda dan Jepang. Secara khusus masyarakat Belanda akan lebih mudah diperkenalkan sekaligus dipersuasi agar tertarik mengunjungi Semarang. Hal ini karena kedekatan emosionalnya karena mereka masih punya nenek moyang yang meninggal pada zaman perang kolonial Belanda dan keinginan bernostalgia di Du Pavilion tempo dulu.
Penulis :
Sukawi, Pengajar Ilmu Arsitektur, Sekretaris Program Diploma Desain Arsitektur UNDIP dan aktivis Komunitas Loenpia.net Semarang
0 komentar:
Post a Comment