

TUMBANGNYA pohon-pohon di kota, baik sebagai peteduh jalan maupun taman, kerap terjadi di setiap penghujung musim penghujan.
Padahal musibah yang sering menimbulkan kerugian materi dan tidak jarang merenggut jiwa itu tidak perlu berulang kali terjadi dan harus segera dihindari. Cukuplah kiranya memetik pelajaran mahal dari musibah tersebut.
Hati-hati, di balik rimbunnya pohon yang menjadi peneduh Semarang, ternyata tersimpan bahaya. Pepohonan penghijau yang berperan sebagai paru-paru kota itu kini justru menjadi ancaman serius, karena tak cukup kokoh menahan terpaan angin kencang.
Buktinya, puluhan pohon jalan tumbang dan mengalami patah dahan di sepanjang Jl dr Wahidin hingga tanjakan Gombel. Bahkan sebuah pohon yang tumbang di depan kantor PLN mengadang jalan, ketika hujan deras diikuti angin yang mengguyur Semarang (SM, 9/10/2008).
Sejumlah kejadian berulang dan menjadi langganan tersebut makin membuktikan belum ada perhatian serius dalam mengendalikan salah satu aset kota ini.
Kehadiran beberapa jenis pohon, baik jenis-jenis yang telah ’’berumur’’ warisan zaman Belanda seperti kenari (Canarium commune), asam (Tamarindus indica) dan damar (Agatis damara), maupun jenis ’’pionir’’ penghijauan yang cepat tumbuh di belantara hutan beton dan aspal kota di masa Orba, seperti angsana (Pterocarpus indicus), layak diperlakukan sebagai makhluk hidup yang tumbuh, berkembang dan perlu perawatan yang memadai.
Menurut anggapan umum, penyebab tumbangnya pohon adalah umur pohon yang sudah tua, antara 20-30 tahun.
Usaha penanggulangan Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang adalah dengan menebangi pohon- pohon tua. Sebenarnya pohon angsana umur 20-30 tahun belumlah tua. Dapat dikatakan masih remaja dan seharusnya masih kuat.
Pohon angsana banyak ditanam pada 1980-an. Alasannya, pohon itu gampang tumbuh dan tahan penyakit. Karena bongsor, angsana diharapkan cepat menyerap karbondioksida dan logam berat yang dihasilkan knalpot kendaraan bermotor. Kala itu, penanaman banyak dilakukan dengan stek.
Perakaran Tak Kuat
Angsana memang gampang ditanam, tapi pohon yang tumbuh dari stek jelas tidak kokoh karena perakarannya tak kuat. Pemeliharaannya pun perlu perhatian. Misalnya, pohon jangan dibiarkan bercabang banyak.
Cabang-cabang kecilnya tentu tak sekuat cabang tua yang lebih berotot. Keadaan itu diperparah oleh banyaknya akar yang terpotong karena pembangunan got, penanaman kabel dan pipa air bersih, serta pembangunan trotoar.
Namun mengapa banyak yang menjadi rapuh? Jawabannya sederhana: karena kita menyiksanya, tapi tak menyadarinya. Penyiksaan itu berupa pencemaran udara yang makin hari makin berat, karena semburan gas buang kendaraan bermotor yang makin hari makin banyak. Udara tercemar meracuninya. Permukaan dedaunan tertutup lapisan jelaga hitam.
Kita menyiksa pohon dengan memperlebar jalan, mempersempit trotoar, serta menyemen tempat pohon tumbuh. Dari mana akar mendapat oksigen untuk pernapasannya? Dari mana pula akar mendapatkan air? Kekurangan oksigen juga mengurangi kemampuan akar menyerap air dan zat hara.
Tanaman penghijau kota harus memenuhi kriteria khusus. Misalnya, akar tidak tumbuh mendatar, sehingga tak merusak badan jalan dan fasilitas kota lainnya. Batang harus tumbuh lurus dengan percabangan terendah minimal tiga meter, dan tidak mengalami perontokan daun berlebihan.
Untuk Kota Semarang, sebagian besar hampir tak punya kendala ekologis dan geografis. Segala jenis pohon, terutama pepohonan dataran rendah, bisa tumbuh baik. Misalnya mahoni (Swiefenio microphylia), tanjung (Mimusops elengi), trembesi (Samonea saman), asam (Tamarindus indica), dan glodogan (Polyafthlea longifolia).
Pedoman memilih pohon peneduh, yaitu pohon harus bisa tumbuh pada tanah padat, akar tidak menonjol di permukaan tanah, tahan terhadap hembusan angin kuat, dahan dan ranting tidak mudah patah, tidak mudah tumbang, guguran daun sedikit, dan menyerap unsur-unsur pencemar udara dari kendaraan bermotor.
Syarat lainnya, pohon tidak rusak oleh pencemaran udara, mudah sembuh jika terluka karena benturan mobil, teduh tetapi tidak terlalu gelap, bisa cocok hidup dengan tanaman lain. Dapatkah kita mempunyai pohon dengan aman dan tidak terancam pohon tumbang? Jawabannya dapat, asal kita mau berhenti menyiksa pohon kota.
Tingkat bahaya pohon ditentukan dua komponen, yaitu bentuk ketidaknormalan struktural pohon, dan objek yang menjadi sasaran. Berdasarkan dua komponen ini, penilaian bentuk ancaman diklasifikasikan dari yang ringan berupa tertimpa ranting sampai yang berat tertimpa batang pohon, dengan menilai kerugian dari objek sasaran baik itu manusia, kendaraan atau rumah.
Untuk itu pemeliharaan pohon kota harus dilakukan secara kontinyu dengan empat langkah, yaitu: memberi air sesuai kebutuhan, memberi makanan yang sebaiknya pupuk organik, memangkas ranting-ranting kering dan cabang yang membahayakan, menyemprot anti hama. Semoga Semarang menjadi asri, hijau dan nyaman dengan pohon yang sehat dan tidak mengancam keselamatan penghuninya.
dimuat di Suara Merdeka
angsana memang tidak cocok ditanam di pinggir jalan karena kayunya rapuh. itu memang sifat dari pohon itu sendiri akibat terlalu cepat tinggi (bandingkan dengan mahoni, misalnya). selain itu pemeliharaan pohon harus dilakukan agar pohon tidak menjadi penyebab bahaya di kota, pemilihan bibit pohon yang baik (ya, bukan dari stek-an)
ReplyDeletenapa gak nanam asam jawa ya?
ReplyDelete