
MASYARAKAT Kota Semarang mungkin boleh iri dengan keberadaan busway di Jakarta yang sedikit mampu mengendalikan kemacetan lalu lintas. Lalu bagaimana Kota ATLAS mampu menyelesaikan persoalan kemacetan di jalan. Busway merupakan suatu sistem perangkutan dengan bus yang sangat teratur dan membutuhkan disiplin tinggi dari penggunanya. Akan selesaikah persoalan kemacetan di ruas jalan Kota Semarang dengan solusi menerapkan sistem itu?
Hampir dipastikan jawabannya adalah tidak. Dari tahun ke tahun kemacetan di Kota Semarang mulai mendekati kondisi Jakarta. Memang tidak dapat dimungkiri bahwa jumlah kendaraan yang berlalu lalang di Semarang sangat luar biasa, sehingga muncul sedikit gangguan saja dapat berakibat fatal terhadap kelancaran lalu lintas.
Kalau dicermati, hampir dapat dipastikan sebagian besar penyebab kemacetan lalu lintas di Semarang adalah ketidaktertiban para pengguna jalan. Kondisi itu semakin diperparah dengan pemanfaatan jalan dan kelengkapannya untuk kegiatan yang mengganggu lalu lintas (PKL dan parkir, misalnya) serta perubahan fungsi kawasan yang direstui pemkot meski tidak sesuai dengan rencana tata ruangnya, sehingga muncul banyak sekali simpul jalan yang bottle neck. Coba tengok penggal Jalan Majapahit, Jalan Soekarno Hatta, Jalan Sriwijaya, Jalan Kaligawe, dan masih banyak lagi.
Rencana Tata Ruang
Bagaimana masyarakat Semarang menyikapi kemacetan? Jawabannya adalah rebutan. Mari lihat kemacetan di perempatan jalan yang dilengkapi dengan traffic light pada pagi dan sore hari di saat jam masuk dan pulang kerja.
Pada pihak yang terkena lampu merah, kendaraan yang berada di belakang menempel ketat kendaraan di depannya, seolah kondisi itu adalah pembenaran untuk melanggar lampu merah. Sementara itu di pihak lampu hijau, tanpa peduli apa yang terjadi di depannya, segera bergerak untuk mengambil ”hak”nya.
Itu semua baru dari iklim ketertiban yang sama sekali belum disentuh secara sungguh-sungguh oleh pemerintah, aparat, maupun masyarakat. Bagaimana dengan perencanaan kotanya sendiri? Apakah sudah melihat keberkaitan antara pengembangan pusat-pusat kegiatan dengan lalu lintas di Kota ATLAS? Silakan tengok perkembangan kawasan perkantoran, komersial seperti mal dan pusat perbelanjaan sejenis DP Mal, Java Mal, dan ruko-ruko yang menjejali pusat Kota Semarang, kawasan permukiman di Semarang atas dan banyak lagi. Peran rencana tata ruang, tidak lebih dari sekadar macan kertas. Ibarat anjing menggonggong yang tak pernah menggigit. Kelemahan lain adalah tidak adanya posisi tawar (bargaining position) dari rakyat atau warga. Seolah yang serbamenentukan adalah pemerintah, pusat, maupun daerah. Rencana itu mudah diubah sesuai dengan permintaan pasar.
Para pebisnis, yang tentunya tidak buta huruf atau buta peta, cenderung menyiasati rencana tata ruang untuk pengembangan bisnisnya ketimbang membantu upaya pemerintah mengurangi tekanan lalu lintas pada kawasan yang memang sudah padat. Pemerintah pun dengan senang hati mengabulkan keinginan pebisnis itu karena ada keuntungan bagi mereka.
Kita bisa melihat sendiri pusat kota selalu dijejali dengan mal, supermal, department store, pusat perbelanjaan yang serba-wah, tanpa tersedia ruang terbuka hijau yang memadai. Ruang terbuka hijau dengan perlahan diobrak-abrik, taman berubah jadi perkantoran, perbukitan ditanami rumah mewah, pantai diuruk dan dikapling-kapling. Apalagi jika seluruh kapling itu nantinya penuh diisi oleh bangunan (tinggi), berapa tambahan kendaraan yang dibutuhkan untuk mengangkut sejumlah manusia tersebut menuju bangunan baru dan keluar dari bangunan tersebut?
Berapa banyak lagi tambahan beban transportasi yang harus dipikul oleh jalan tersebut? Pelan namun pasti, Kota Semarang akan menjadi kota îbaskonî karena penegakan aturan koefisien dasar bangunan (KDB) masih carut marut.
Pusat Keramaian Baru
Belajar dari konsep perencanaan kota-kota besar di Eropa, tanpa tersedianya sarana transportasi bawah tanah, seharusnya jumlah bangunan tinggi di pusat Kota Semarang dibatasi. Hal itu bertujuan untuk membatasi jumlah manusia per meter persegi lahan yang beraktivitas di kawasan pusat kota itu. Bangunan tinggi sebaiknya di bangun di tepi kota dengan persyaratan KDB yang rendah, untuk menghindari terkonsentrasinya manusia di suatu tempat, dan secara langsung atau tidak langsung mengurangi tingkat konsentrasi lalu lintas di kawasan tersebut.
Pemkot bisa memulai dengan berusaha memindahkan pusat-pusat kegiatan ke pinggir kota. Hai itu untuk mengurangi beban aktivitas kota yang selalu berkait dengan masalah beban transportasi. Pusat keramaian baru dibangun di tepi atau bahkan di perbatasan kota, seperti Mangkang, Mijen, Pucanggading, dan Gunungpati. Sementara itu pusat kota tetap diisi oleh bangunan yang rendah guna menghindari terkonsentrasinya lalu lintas yang akan mengakibatkan kemacetan. Jika tidak dipikirkan dari sekarang, perkembangan pusat kota Semarang akan semakin cenderung mengkhawatirkan.
Tumbuh pesatnya bangunan baru sebagai pusat aktivitas manusia menimbulkan kemacetan yang sulit diselesaikan. Untuk itu, secepatnya harus membuat strategi baru konsep perencanaan dan perancangan kota. Menurut Wayne Attoe, untuk membangkitkan aktivitas pertumbuhan baru, salah satunya adalah dengan membuat wadah/tempat untuk mengumpulan kegiatan masyarakat kota diiringi dengan penambahan fasilitas publik. Berdasarkan konsep itu, kiranya dapat dipelajari tentang keberhasilan pengembangan pusat kegiatan masyarakat.
Kita bisa belajar dari kawasan Simpanglima yang mempunyai karakteristik yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pembuatan pu-sat keramaian baru di Semarang. Karakteristik yang berhubungan dengan aktivitas publik itu berfungsi sebagai pusat perdagangan, pencapaian yang mudah, kontinuitas kegiatan, dan daya tampung masyarakat.
Pembangunan pusat keramaian baru atau bangunan yang akan menyedot banyak manusia atau pengunjung di pusat-pusat kota harus segera dicegah, dialihkan ke tepi kota, atau kawasan yang belum padat. Jika perlu diletakkan di kawasan baru. Tanpa ada goodwill dari penguasa kota untuk mengontrol perkembangan pusat kota, maka dalam beberapa waktu mendatang Semarang akan menjadi tempat yang dapat menyulitkan bagi keberlangsungan hidup warganya sendiri.
dimuat di Suara Merdeka
warhammer gold warhammer money warhammer accounts tibia money tibia gold tibia item runescape accounts buy runescape accounts runescape money runescape gold runescape gp runescape power leveling runescape powerleveling cheap rs2 powerleveling runescape equipment buy rs equipment runescape runes cheap rs2 runes runescape logs cheap rs2 logs runescape items buy runescape items runescape quest point rs2 quest point cheap runescape questpoint runescape gold runescape items runescape power leveling runescape money runescape gold buy runescape gold buy runescape money runescape items runescape accounts runescape gp runescape accounts runescape money runescape power leveling runescape powerleveling tibia gold dofus kamas buy dofus kamas wow power leveling wow powerleveling runescape questpoint rs2 questpoint Warcraft PowerLeveling Warcraft Power Leveling World of Warcraft PowerLeveling World of Warcraft Power Leveling Hellgate money Hellgate gold buy runescape logs buy rs2 items cheap runescape items Hellgate London gold Guild Wars Gold buy Guild Wars Gold runescape items rs2 accounts cheap rs2 equipments lotro gold buy lotro gold buy runescape money buy runescape gold buy runescape runes lotro gold buy lotro gold runescape money runescape gold cheap rs2 powerleveling eve isk eve online isk buy runescape power leveling rs2 power leveling tibia gold tibia item runescape accounts Fiesta Silver Fiesta Gold Scions of Fate Gold Hellgate Palladium Hellgate London Palladium SOF Gold Age Of Conan Gold AOC Gold ArchLord gold tibia money tibia gold runescape accounts runescape gold cheap rs2 powerleveling buy ArchLord gold DDO Plat Dungeons and Dragons Online Plat
ReplyDeletekemacetan di semarang khususnya dan kota besar indonesia umumnya susah diberantas pak, soalnya itu berkaitan dengan ego individu2 manusia indonesia, yang lebih suka berbangga diri dengan kendaraan pribadinya masing-masing. dan ini diperparah dengan kebijakan pemerintah yang saya rasa masih setengah hati, contohnya busway itu.
ReplyDeleteSebagai warga asli Semarang, saya juga merasakan setiap tahunnya kota Semarang semakin padat. Yang menjengkelkan adalah tingkah laku pengendara (terutama roda dua) yang semakin egois, dan transportasi publik yang semakin kurang kedisiplinannya. Menurut saya sih, semua itu dipengaruhi faktor psikologis juga karena manusia cenderung stress jika bertemu dengan kemacetan. Mungkin kita bisa mencontoh London. London merupakan salah satu kota tersibuk di dunia. Kemacetan "hampir" tidak dapat dihindari. Untuk menghindari kemacetan, ada ruas jalan tertentu di London yang untuk melewatinya harus bayar "tol" dulu. Atau yang lebih canggih lagi, jika diperkirakan kemacetan akan terjadi maka polisi akan mencegahnya agar tidak terjadi dengan mengalihkan lalu lintas ke jalan alternatif...
ReplyDeleteKalau saja masyarakat kita patuh dan disiplin, Itu semua bisa saja diterapkan di Indonesia khususnya di Semarang
Kasih komen di blog saya ya.. gastudio14.blogspot.com
thanks infonya :)
ReplyDelete